2020, SAATNYA MEMBENAHI DAKWAH!

Oleh: Akmal Sjafril (Koordinator Pusat #IndonesiaTanpaJIL)

Seruan Perang Salib dikumandangkan pada tahun 1095 M. Segerombolan orang dengan segera menyusun kekuatan dan berangkat secara terburu-buru untuk melakukan penyerangan ke al-Quds, namun perjalanannya terhenti di sekitar Anatolia, Turki.

Rombongan berikutnya, yang lebih terlatih dan teratur barisannya, jauh lebih sukses. Empat tahun kemudian, al-Quds berhasil mereka kuasai dalam sebuah peristiwa berdarah yang sulit dicari pembandingnya. Hampir sembilan dekade lamanya al-Quds terlepas dari tangan umat Islam sebelum akhirnya direbut oleh pasukan yang dipimpin oleh Shalahuddin al-Ayyubi.

Pada saat itu, Imam al-Ghazali telah memiliki reputasi yang sangat tinggi. Sebagai murid dari Imam al-Juwaini dan mantan Kepala Madrasah an-Nizhamiyyah di Baghdad, ibukota kekhalifahan Islam pada era Daulah ‘Abbasiyyah, banyak orang berharap kepada dirinya.

Akan tetapi, beberapa tahun sebelum pendudukan al-Quds, yaitu setelah sahabatnya, Nizham al-Mulk, terbunuh, al-Ghazali telah mengundurkan diri dari seluruh jabatannya yang mentereng. Al-Ghazali menyibukkan diri dengan merenungkan kondisi masyarakat Islam pada masa itu yang sudah kacau balau, dan kejatuhan al-Quds hanya menambahkan pedih bagaikan cuka yang dituangkan ke atas luka.

Tidak sedikit orang yang kecewa pada al-Ghazali. Beliau adalah tokoh besar, namun seolah “abai” terhadap jihad, justru ketika umat harus disemangati. Karya tulisnya sangat banyak, namun hampir tak ada yang berbicara tentang jihad.

Akan tetapi, Dr Majid ‘Irsan al-Kilani punya pendapat lain. Menurutnya, al-Ghazali tidak membahas jihad bukan karena mengabaikannya, melainkan karena sejak awal permasalahannya memang bukan soal pemahaman umat terhadap kewajiban jihad atau kekuatan militer Daulah ‘Abbasiyyah. Yang masalah bukanlah jihadnya, melainkan siapa yang berangkat. Sementara umat terpecah-belah dan berada dalam kondisi moral yang begitu parah, maka operasi militer bukanlah hal yang paling urgen untuk diselesaikan. Al-Ghazali langsung mengarahkan perhatiannya pada pangkal permasalahan: jiwa!

Majid tidak sedang mengigau. Dalam karya ilmiahnya, Hakaadzaa Zhahara Jiil Shalaahuddiin wa Hakaadzaa‘Adaat al-Quds, beliau menunjukkan sebuah fakta keras yang sulit dibantah.

Generasi Shalahuddin al-Ayyubi, para pembebas al-Quds, adalah karya agung Nuruddin Zanki. Nuruddin adalah seorang pemimpin besar yang membuka pintu wilayahnya untuk setiap ulama dan cendekiawan. Kebijakannya itu mengundang kedatangan banyak cendekiawan dari seluruh penjuru negeri, dari madrasah-madrasah yang umumnya merupakan bagian dari jaringan madrasah yang dipimpin oleh Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilani. Tidak sulit menemukan hubungan antara tokoh yang terakhir ini dengan al-Ghazali. Keduanya sama-sama pernah mencetak karir gemilang di pusat kekuasaan, Baghdad.

Benang merah telah ditemukan. Tak ada lagi alasan untuk mengingkari al-Ghazali, demikian pula rumusan permasalahan yang diajukannya. Pendudukan al-Quds hanya gejala permukaan dari problem sesungguhnya yang jauh di kedalaman. Mentalitas umat harus berubah, dan itu hanya bisa dilakukan melalui pendidikan.

Hanya saja, pendidikan bukanlah investasi jangka pendek. Empat puluh tahun setelah jatuhnya al-Quds, lahirlah generasi Shalahuddin; buah dari kerja keras ratusan, bahkan ribuan ulama, dai, cendekiawan, dan pendidik. Dari tangan para pendidik sejati itulah lahir para mujahid yang siap menyongsong tugas-tugas beratnya.

Gerakan Dakwah

Jika 2020 bukan tahun politik, biarlah ia menjadi tahun dakwah. Sejak awal, kebangkitan dan keterpurukan umat memang tidak ditentukan di kotak suara atau dalam data penghasilan per kapita.

Keadaan Palestina sekarang sama saja dengan 900 tahun yang lalu; terjajah di tengah-tengah wilayah luas Timur Tengah yang seluruhnya dikuasai umat Islam yang enggan bersatu. Jika jalan panjang dakwah itu harus ditempuh, maka jadilah!

Tibalah saatnya untuk menatap ke dalam cermin yang jernih, menyapa cantik-buruknya bayangan wajah yang terlihat. Dakwah yang semestinya menjadi solusi, barangkali kini telah menjadi bagian dari masalah.

Ada yang menyeru kepada akhirat, namun penyerunya sendiri tak mampu meninggalkan dunia. Sebagian (orang yang menyebut dirinya) dai tidak malu-malu menegosiasikan tarif sebelum menerima undangan kajian. Bukan hanya tarif, tapi jenis mobil yang menjemputnya pun harus dijelaskan secara terperinci. Sudah barang tentu, situasi ini tidak cocok untuk mahasiswa dan aktivis dakwah kampus yang sesungguhnya justru tumpuan harapan umat ini.

Sebagian di antara mereka tak ragu membagi tips. Perbanyaklah Shalat Dhuha agar rezeki lancar, perbanyaklah shalawat agar mobil dan smartphone seharga laptop ini menjadi milik Anda. Jika pada akhirnya semua itu menjadi milik Anda, maka itu artinya shalat dan tilawah Anda diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sayangnya, mereka lupa bercerita tentang orang-orang kafir yang tak pernah shalat dan tilawah namun jauh lebih kaya daripada mereka. Bahkan mobil dan smartphone yang dikejar-kejar dengan shalat dan tilawah itu diproduksi di pabrik-pabrik milik mereka. Jika ukuran keridhaan-Nya adalah harta benda, lantas apakah itu tandanya orang-orang kafir itu juga telah mendapatkan keridhaan-Nya?

Sebagian yang lainnya menjadikan dakwah bagaikan dunia hiburan. Tak ada analisis tentang materi kajian apa yang paling dibutuhkan umat. Yang ada hanya lelucon yang diulang dari panggung ke panggung.

Kalau jamaah tak dibikin nyaman, tak ada gunanya kajian. Karena itu, kajian harus bikin semua orang merasa nyaman. Tak boleh ada kegelisahan, tak boleh ada kekhawatiran. Padahal, orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang khawatir dengan kemunafiqan dirinya.

Di tempat lain, ada juga yang lagi sibuk menggelar kajian untuk mencari sekecil-kecilnya kesalahan para dai muda yang baru saja naik daun karena ketinggian ilmunya, karena mereka berpotensi “merebut jamaah”, bahkan diduga akan “merebut” masjid.

Ada juga yang sibuk meyakinkan umat bahwa akhir zaman semakin mendekat, seolah-olah ada yang bilang bahwa ia pernah menjauh. Prediksi jadwal perang akhir zaman bahkan sudah diumumkan. Lantas dikira-kiralah skenario yang akan terjadi, salah satunya adalah kehancuran teknologi. Kalau teknologi akan hancur, lantas apa gunanya lagi menguasai teknologi? Apa gunanya lagi belajar susah-susah dan sekolah tinggi-tinggi? Percaya atau tidak, kini sudah banyak yang mengatakan hal yang demikian.

Umat berada dalam kondisi terpuruk, dan hanya para dai yang ikhlas-lah yang dapat membalikkan keadaan, itu pun tidak dalam semalam. Jika perjalanan panjang dan menyakitkan ini memang harus dijalani, maka berkemaslah.

2020, saatnya kita membenahi dakwah kita!*

(Sumber: Majalah Suara Hidayatullah edisi Januari 2020)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.