Wabah Dalam Aqidah Tenaga Kesehatan Indonesia

⚡ Kajian Analisa Eksternal ⚡

IndonesiaTanpaJIL (ITJ) Chapter Padang

Edisi April 2019

Wabah Dalam Aqidah Tenaga Kesehatan Indonesia

Bila kita bicara tentang wabah penyakit, maka wabah penyakit tersebut akan terbagi menjadi beberapa kategori berdasarkan luas wilayah yang terdampak; sekurangnya terbagi menjadi endemi, epidemi, dan pandemi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia online, endemi adalah penyakit yang berjangkit di suatu daerah atau pada suatu golongan masyarakat. Epidemi diartikan sebagai penyakit menular yang berjangkit dengan cepat di daerah yang luas dan menimbulkan banyak korban, misalnya penyakit yang tidak secara tetap berjangkit di daerah itu; wabah. Sementara, pandemi didefinisikan sebagai wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas.

Kita dapat mencontohkan endemi dengan penyakit malaria yang menjadi penyakit “khas” di daerah-daerah tertentu. Wabah SARS yang pernah melanda sejumlah negara Asia Tenggara dapat dijadikan contoh epidemi, dan wabah HIV/AIDS yang sudah menyebar di seluruh dunia sebagai contoh pandemi.

Bila kita membuka mata cukup lebar dan menjaga hati cukup bersih, maka kita akan menemukan bahwa wabah penyakit di Nusantara tercinta tidak hanya menyakiti fisik saja. Ada wabah penyakit yang tidak kalah berbahayanya dan justru mengancam kesejahteraan kita di kehidupan yang kekal nanti, yaitu wabah penyakit dalam perkara aqidah. Tidaklah keliru bila kita katakan bahwa Indonesia masih jalan di tempat dalam masalah aqidah. Apa yang kita temui dalam keseharian kita tentu mengkonfirmasi hal tersebut.

Mari coba kita nilai dari sekitar kita dulu; yang dekat-dekat dulu. Mari kita catat, apa saja yang kita temui di rumah kita yang mengganggu aqidah kita? Koran dan majalah kita menyuguhi kita ramalan bintang, iklan pasang susuk, pasang penglaris, dan sebagainya. Televisi kita, menawarkan kita tayangan hantu-hantu dan mengorbitkan orang-orang “indigo” yang jelas-jelas dalam kacamata Islam merupakan orang dengan gangguan jin. Akibat pengorbitan itu, alih-alih orang “indigo” dianggap sakit dan diupayakan kesembuhannya, malah justru dianggap istimewa dan berkemampuan khusus. Subhanallah. Tawaran-tawaran kesyirikan sudah datang ke rumah-rumah kita, tanpa diundang, tanpa mengetuk pintu!

Keluar dari rumah, makin beragam penyimpangan yang kita temui. Kita akan bertemu beberapa pedagang yang menepuk-nepuk dagangannya dengan uang dari pembeli pertama, dengan keyakinan hal tersebut akan melariskan dagangannya. Kita akan bertemu beberapa traveler yang tidak mau membaca quran di hutan karena takut menantang penunggu hutannya (!). Lucunya, kita juga bisa bertemu beberapa tenaga kesehatan yang sadar atau tidak sadar, aktif menjalani tathayyur dalam proses pekerjannya.

Tathayyur dapat dipahami sebagai sebuah tindakan menganggap bahwa kesialan akan datang dalam sebab-sebab yang tidak ilmiah. Tathayyur atau thiyaroh berasal dari bahasa arab thiar yang berarti burung. Orang Arab jahiliyyah memiliki kebiasaan melepas burung sebelum melakukan perjalanan. Bila burung terbang ke arah kanan, maka hal ini dianggap sebagai pertanda baik dan perjalanan akan dilakukan. Sebaliknya, apabila burung terbang ke arah kiri, maka dianggap sebagai pertanda buruk dan perjalanan akan diurungkan.Tathayyur tidak hanya dimaksudkan untuk kebiasaan jahiliyyah percaya pada tanda-tanda dari terbangnya burung saja, namun juga kebiasaan percaya tanda-tanda kesialan atau musibah yang lain.

Sangat banyak dari tenaga kesehatan di Indonesia, lintas suku, agama, dan daerah, yang aktif menjalani tathayyur. Contoh paling sederhananya adalah, meyakini bahwa seseorang itu memiliki “bakat” untuk mendatangkan atau menolak pasien. Ada orang yang “bau”, alias “pambaok”, alias diyakini akan mendatangkan banyak pasien ketika sedang bertugas, terutama di IGD. Banyak pasien berarti banyak pekerjaan, dan banyak pekerjaan tidak berarti bertambah penghasilan namun pasti berarti bertambah kelelahan. Ada yang diyakini sebaliknya, yaitu “harum” alias “panulak” alias diyakini akan membuat pasien saat sedang bertugas jaga menjadi sedikit bahkan tidak ada. Sedikit pasien, berarti sedikit pekerjaan, berarti lebih sedikit kelelahan.

Fenomena tathayyur di tataran sebagian tenaga kesehatan di Indonesia ini tidak statis sebatas anggapan-anggapan itu saja, namun sudah bertransformasi menjadi tindakan-tindakan yang mengarah kepada taraf menggelikan. Seseorang yang dianggap “harum” tadi bisa saja diperebutkan untuk bertugas jaga di IGD atau bangsal, agar sedikit pasien yang harus diurus tim jaga. Bahkan, bisa diminta cetakan fotonya untuk ditaruh di IGD agar “efek panulak”-nya bekerja walau tidak ada orangnya. Sementara, nasib mereka yang diyakini “bau” agak lebih malang. Perlakuan yang paling ringan adalah ditanyai “sudah mandi atau belum”, karena dengan mandi diyakini “bau”-nya akan berkurang sehingga bakat mengundang pasiennya berkurang. Taraf selanjutnya, bisa jadi si “bau” ini tidak diizinkan tugas jaga di IGD karena “bakat”-nya tersebut, padahal bagi peserta pendidikan profesi, tugas jaga di semua pos sangat diperlukan untuk menunjang skill-nya. Inilah bukti distorsi aqidah memang nyata-nyata membawa kerugian. Salah satu perlakuan yang paling dahsyat adalah, si “bau” dibebastugaskan (!), dipersilakan ke mana saja asal tidak dekat-dekat lokasi tugas jaga. Biasanya ini terjadi terhadap peserta pendidikan profesi. Kisah-kisah tathayyur ini saking sudah lazimnya bahkan sampa diceritakan dalam komik online yang dapat diakses gratis. Ini menunjukkan, wabah dalam aqidah tenaga kesehatan Indonesia sudah melampaui endemi dan berada pada level epidemi. Apakah sudah sampai pandemi? Saya belum mengetahuinya.

Mengapa tathayyur yang dilakukan tenaga kesehatan bisa dianggap lucu? Tenaga kesehatan adalah golongan intelektual yang terbiasa berpikir dan bertindak berdasarkan bukti ilmiah; evidence based. Bahkan tenaga kesehatan tertentu memiliki pengetahuan untuk menyelamatkan nyawa, tangan-tangan yang terampil, mental yang tidak takut dengan darah, dan sejumlah keistimewaan lain yang Allah berikan kepada mereka dengan jalan kerja keras. Bahkan di sejumlah daerah, tenaga kesehatan dianggap begitu istimewa sehingga kerap diminta pendapatnya untuk sesuatu yang sebenarnya bukan keahliannya, misalnya pembangunan jalan, memilih nama anak, urusan nasihat untuk pemuda yang akan pergi merantau, dan sebagainya. Begitulah anggapan sebagian masyarakat akan luasnya wawasan para tenaga kesehatan. Namun, entah kenapa untuk urusan hal yang mendasar dalam urusan agama, sebagian –entah sebagian kecil atau sebagian besar- dari tenaga kesehatan Indonesia, menjadi tidak ilmiah; tidak mendasari keyakinannya dengan ilmu. Keyakinan yang tidak ilmiah ini mengakibatkan terjadinya distorsi dalam kelurusan aqidah mereka yang meyakini ada bakat “bau” atau “harum” tersebut; tathayyur.

Contoh lain dari tathayyur adalah menganggap anak sering sakit karena “salah memberi nama” sehingga nama tersebut harus diganti. Menganggap tidak boleh ada lantai bernomor 13 di suatu bangunan dan hal serupa juga merupakan contoh nyata yang kita temui dari praktik tathayyur di masyarakat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ صَفَرَ
“Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar” (HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220). Dalam hadits ini disebutkan tidak bolehnya beranggapan sial secara umum, juga pada tempat dan waktu tertentu seperti pada bulan Shafar. Di negeri kita yang terkenal adalah beranggapan sial dengan bulan Suro, maka itu pun sama terlarangnya.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menyebutkan hadits secara marfu’ –sampai kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
« الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ ».
“Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538).

Dalam agama Islam; satu-satunya agama yang benar, tathayyur adalah sebuah kesyirikan, yaitu tindakan menyekutukan Allah. Dalam Islam, syirik adalah dosa yang tidak diampuni oleh Allah kecuali bila ditaubati. Maka apabila meninggal seseorang dan ia membawa dosa syirik yang belum ditaubati, maka adzab akan menunggunya di alam selanjutnya. Kita tentu tahu, seringan-ringan adzab di neraka adalah dipakaikan terompah neraka dan seketika mendidih otaknya. Adzab paling ringan itu saja pasti tak ada dari kita yang mengaku sanggup menahannya. Jika demikian, apalagi yang menghalangi kita untuk takut dengan adzab Allah?

Maka, bila ada tenaga kesehatan yang membaca tulisan ini dan menyadari bahwa dalam menjalani profesinya ia pernah melakukan tathayyur, segeralah bertaubat dan beritahu yang lain. Bertaubatlah dengan meyakini bahwa takdir baik dan takdir buruk berasal dari Allah semata. Bila tidak ingin banyak orang sakit sehingga kerja kita menjadi banyak, giatkan upaya promotif dan preventif dan semua yang menunjang upaya tersebut, termasuk misalnya menggunakan hak politik yang mengakomodir hal tersebut. Setelah berusaha, bertawakkallah kepada Allah. Sedikit atau banyaknya pekerjaan kita adalah kehendak Allah. Semoga dengan menjalaninya dengan ihsan (beramal seperti melihat Allah, atau meyakini bahwa Allah selalu melihat) membawa keberkahan bagi kita.

Bila ada di antara tenaga kesehatan yang tidak sepakat dengan tulisan ini, silakan bantah dengan cara yang ilmiah. Bantahan yang bersifat ngeles justru menunjukkan ada noktah kebodohan dalam kecerdasan kita; seperti halnya ‘Amr bin Hisyam yang memiliki dua nama julukan yang saling bertentangan satu sama lainnya, yaitu Abul Hakam (bapak kebijaksanaan) yang ia dapatkan karena merupakan orang cerdas dan berpengaruh di Makkah dan Abu Jahal (bapak kebodohan) karena kebodohannya menolak dakwah Rasulullah SAW hanya karena kenabian tidak turun di kabilah atau klan-nya. Kebodohan yang membuatnya hina di dunia karena lebih kita kenal namanya sebagai Abu Jahal, dan ia pun kekal di neraka. Sungguh bodoh, bukan? Bila ada di antara tenaga kesehatan yang berdalih bahwa sebutan “bau” dan “harum” ini hanyalah untuk lucu-lucuan, mari ajari ia lelucon yang ramah aqidah dan katakan kepadanya bahwa berislam tidak bisa liberal. Berislam itu artinya kita selamat dengan menyerahkan diri kepada Allah. Allah punya aturan dan batasan untuk kita, agar kira selamat. Bukankah, bahkan tekanan darah yang normal atau frekuensi nafas yang normal memiliki rentang sebagai batas? Selama masih dalam rentang batas normal, maka orang tersebut sehat. Maka, demikian juga dalam beragama. Selama masih dalam aturan dan batasan, insyaaAllah kita selamat. Sungguh, berbebas-bebas tanpa batas telah menjadi epidemi aqidah; menjadi wabah dalam aqidah tenaga kesehatan Indonesia.

Bengkulu, 9 April 2019

Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Chapter Padang
dr. Primananda Alfidiya Ikhsan

IndonesiaTanpaJIL

Follow ITJ Padang:
Fb: Itj Padang
Fp: Itj Padang
Email: itjpadang@gmail.com
Line: @zrw2630u
Ig: @ItjPadang
Twitter: @ITJPadang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.