HIJRAH TIADA HENTI

HIJRAH TIADA HENTI

oleh : Ust. Yasir Amarulloh

Adalah hal yang sudah kita fahami, megapa tahun baru Islam di mulai dari momentum Hijrah. Mengambil momentum penanggalan saat peristiwa Hijrahnya Rosululloh dari Makkah ke Madinah. Peristiwa Hijrah adalah peristiwa revolusioner yang merubah. Merubah keadaan da’wah yang tadinya tersembunyi menjadi terang-terangan, lebih kuat dan terarah. Merubah ketertindasan kaum mu’minin menjadi sanggup setara dengan kaum Jahiliyyah. Merubah Tatanan Masyarakat yang tadinya penuh konflik menjadi masyarakat terbaik. Merubah tercerai berainya ummat menjadi kesatuan jama’ah di bawah naungan Daulah Madinah.
Sedemikian penting arti Hijrah ini, sehingga siapapun harus mengikuti. Maka barang siapa yang mampu pergi, tapi dia tetap betah dalam kondisi negeri Makkah yang jahili, ia ditetapkan Alloh Subhana Wata’ala sebagai orang yang menganiaya diri. Bahkan neraka Jahannam menjadi tempat bagi mereka dan itu seburuk-buruknya tempat kembali. Mari kiita tengok bagaimana Alloh Subahana Wata’ala menggambarkannya dalam Alqur’an secara nyata. QS: An-Nisa ayat 97 menjadi buktinya:
Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, “Dalam keadaan bagaimana kamu ini? Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? ” Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.
Dalam penjelasan ayat ini, yang dimaksud dengan orang yang menzalimi diri sendiri adalah orang-orang muslim Mekah yang tidak mau hijrah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal mereka sanggup berhijrah. Mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badar; akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu.
Karena keadaan mereka yang seperti itu, akhirnya malaikatpun mempertanyaan. Fiimaa Kuntum untuk menunjukkan keheranan kepada mereka yang mengaku telah beriman tapi berada pada barisan yang memperkuat orang-oramg musyrik. Ternyata apa yang dilakukan mereka disebabkan mereka tidak berhijrah. Sehingga mereka akhirnya terpaksa terlibat menjadi barisan yang menguatkan musuh Islam. Bukan penguat barisan Islam.
Hal seperti ini mungkin banyak pula terjadi pada kaum Muslimin saat ini. Mereka telah menyatakan beriman dan berislam tetapi kemudian malah berada dalam barisan pembenci Islam karena keterpaksaan, karena pekerjaan misalnya. Ia tahu bahwa tempat pekerjaanya adalah perusahaan yang mendukung propaganda Islamphobia misalnya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena khawatir kehilangan sumber nafkah keluarga. Kalau ia kemudian betah dan tidak berupaya hijrah, maka kemudian sangat dikhawatirkan apa yang terjadi pada orang-orang yang disebutkan di atas akan terjadi padanya.
Maka kemudian sesuai dengan Sabda Nabi Muhammad Shollalohu A’alihi Wasallam
Hijrah tidak pernah terputus, hingga terputusnya taubat dan Taubat tidak akan pernah terputus hingga terbitnya matahari dari arah barat.
Maka meski Hijrah sebagaimana dilakukan Nabi Muhammad dan para sahabat tidak bisa diulang lagi, tapi Spirit Hijrah harus terus mengalir tiada henti. Spirit untuk berpindah dari keadaan dzhulumat menuju Nur , cahaya Islam. Berpindah dari mendukung bathil menjadi pendukung Haq. Berpindah dari kemusyrikan menuju ketauhidan. Berpindah dari kejahiliyyahan menuju Islam. Berpindah dari keburukan menuju kepada kebaikan-kebaikan.
Maka di tahun baru Hijriyyah Ini marilah kita meniru kaum Muhajir yang rela meninggalkan harta dan tempat tinggal mereka demi mengharapkan Ridho Alloh dan menolong Agama Alloh dan Rosul-Nya. Sebagaimana Alloh Subhana wata’ala firmankan dalam QS 59:8
(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar
Ya karena jika berpindahnya dan berubahnya kita tidak dilandasi dalam rangka mencari keridhoan Alloh dan menolong agama-Nya, maka kemudian hijrah kita akan sia-sia. Karena sebagaimana hadits yang sangat kita kenal tentang niat. Semua orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Jika niat hijrahnya karena wanita ia akan menikahinya akalau karena dunia ia akan mendapatinyta. Tetapi ia tidak akan mendapatkan keabadian pahala dan keutamaan Hijrah dari Alloh Subhana wata’ala.
Semoga kita mampu berhijrah setiap saat, setiap waktu, tanpa henti. Dengan niat semata karena Alloh ta’ala. Sebagai bentuk realiasi dan bukti dari keimanan kita kepada Alloh dan Rosul-Nya. Wallohu A’lam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *