Kenapa Ada Santri Yang Jadi Liberal?

Oleh @randdict

Sebuah kegundahan dalam hati yang terus berkecamuk dalam pikiran saya, terkait kenapa bisa kawan-kawan santri berpola pikir liberal. Menurut saya, jiakalau bukan dari golongan santri, saya tidak begitu heran, jika sudut pandang agamanya liberal. Sebab memang bisa dibilang minim mendapatkan pembekalan mengenai agama Islam.

Tetapi hal ini tidak biasa bila justru terjadi pada santri atau mantan santri lulusan pesantren yang malah mempropagandakan paham Liberal. Saya terus menelusuri fenomena ini termasuk bertanya kepada para asatidz dibeberapa tempat kajian tatkala mereka membahas materi seputar liberalisme.

Perenungan kekecewaan ini terbesit manakala saya menganalisa ternyata kebanyakan tokoh-tokoh dalam Jaringan Islam Liberal (JIL) itu kebanyak memiliki background pesantren. Setidaknya pernah mengemban pendidikan agama yang bagus, ternyata belum jaminan akan mengakkan syariat Islam dengan kaffah. Malah cenderung jadi ngawur dan nyeleneh. Tapi saya tetap berhusnudzon bahwa bukan pesantrennya yang salah melainkan orangnya yang sableng.

Sebetulnya framing santri yang menyebarkan paham liberal termasuk dalam menggembosi stigma pesantren tempat para santri liberal itu menuntut ilmu. Perbandingannya masih sekitar 100: 5 anak-anak santri yang lurus dan santri yang liberal. Jadi anggapan banyak santri yang menyebarkan Liberalisme itu termasuk sebuah kekeliruan. Sebab, para ulama yang sukses dunia akhirat ya pasti pernah mondok atau minimal pernah menimba ilmu di Pesantren, atau buku rujukan dan guru-gurunya berasal dari pesantren.

Kemudian saya coba simpulkan sendiri tentang para santri liberal yang kerap saya temui. Berbekal pemahaman agama yang bagus, tapi minim dengan semangat jihad. Doyan sekali memilah milih ulama. Mereka kategorikan sendiri ulama yang mereka sukai. Puncaknya para santri liberal ini mendukung pencalonan gubernur penista Agama kemarin. Mereka tabrak semua dalil pelarangan memilih pemimpin kafir dengan analogi-analogi mereka yang terkesan halus namun menyesatkan. Sebelumnya perdebatan panjang via twitter maupun dunia nyata dengan santri-santri liberal ini juga telah saya hadapi. Titik pangkalnya mulai terang pada akhirnya, baru-baru ini bagi diri saya.

Ternyata mengapa para santri-santri kini berubah menyebarkan paham Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme (Sepilis) ada beberapa hal. saya berpikir keras, ada apa dengan para santri ini, sebuah jawaban menghampiri, tepatnya dalam sebuah buku berjudul ” Lajur-lajur pemikiran Islam” karya Dr. Tiar Anwar Bachtiar. Kebetulan pada 10 September 2017 kemarin, bersama dengan studi club Cadik (Center for Tadib and the Islamization of Knowledge) kami membedahnya bersama sang penulis.

Sepulang dari forum diskusi bedah buku tersebut saya langsung berusaha merekam dengan mata dan daya ingat lembar demi lembaran buku tersebut. Sampai akhirnya saya bertahan cukup lama pada halaman 86 dan 87. Menurut saya penjelasan dihalaman tersebut cukup mewakili alasan masalah keliberalan beberapa generasi santri yang mengidap kekeliruan dalam hal ilmu agama.

Santri-santri yang liberal ini baik langsung maupun tidak langsung sebetulnya sudah masuk dalam pertarungan pemikiran Islam. Uniknya ketika kita menyebut kampus IAIN/UIN yang mana merupakan Universitas Islam langsung stigma liberal bercokol dipikiran kita. Memang tidak bisa dipungkiri tokoh liberal yang terkenal dengan nama “Harun Nasution” tidak bisa dipisahkan dari kefamousan-nya UIN dengan kampus yang banyak di isi santri-santri Liberal. Tapi sekali lagi ini ada akar permasalahannya. Maklum, sebab beliau adalah tokoh sentral dalam perjalan UIN hingga saat ini.

Paska nama Harun Nasution yang terkenal menjadi pengusung paham Islam Liberal sepulang dari Unv. McGill. Lebih jauh lagi peristiwa fenomenal yang terjadi pada 3 Januari 1970, ketika seorang pidato pengganti Harun Nasution dan Alfian tampil diacara silaturahim Idul Fitri yang diselenggarakan oleh HMI, PII, GPI dan Persami. Dialah “Nurcholis Madjid” alias Cak Nur. Yang dengan yakin menyampaikan ide “Sekukerisasi” terhadap pemikiran umat Islam, bepikir bebas serta terbuka. Dan berusaha menyudahi kejumudan umat beserta perjuangan partai-partai Islam yang hingga saat ini gagal mengambil simpatik dan citra positif bagi masyarakat. Yang pada akhirnya tercetuslah jargon “Islam yes, partai Islam No!”. Sampai pada usulan perlunya kelompok pembaruan yang Liberal. (Lajur-Lajur Pemikiran Islam, Dr Tiar Anwar Bachtiar).

Setelah peristiwa pidato Cak Nur tersebut mulailah genderang perang pemikiran semakin meriah dan jelas terbagi mana santri yang bersungguh-sungguh berjuang atas nama Islam dan mana yang berjuang memadamkan cahaya Islam dengan Liberalisme serta sekukulerisme cetusan Nurcholis Madjid yang mana satu-satunya yang pernah menjabat ketua HMI selama 2 periode. Media mainstream turut ambil dalam mempropagandakan pemikiran CakNur dan pidatonya.

Ide-ide Liberal ini subur dan amat dinikmati dikalangan mahasiswa-mahasiswi IAIN dan kader-kader HMI. Berikut ini adalah beberapa poin yang membuat lahir kemudian besarnya hingga lapisan generasi para mahasiswa di IAIN memakmurkan ide-ide liberal.

1. Di IAIN cenderung tidak terjadi pertentangan ideologi dengan kelompok-kelompok non Islam sehingga mahasiswa-mahasiswa IAIN tidak termotivasi untuk menyebarkan klaim-klaim Islam seperti para aktivis Muslim di Universitas sekuler yang bersentuhan sangat intens dengan ideologi lain.

2. Ketiadaan pelajaran agama di Universitas sekuler mendorong para aktivis Islam disana untuk bersikap lebih apresiatif dengan terhadap pengetahuan dan simbol keagamaan; sementara ketiadaan pelajaran saintifik di IAIN dan pesantren bisa menyebabkan para mahasiswanya terlalu menilai tinggi pengetahuan dan simbol sekuler.

3. Masih membekasnya hierarki pengetahuan yang bersifat kolonial, para mahasiswa diperguruan tinggi Islam merasa inferior dihadapan para mahasiswa perguruan tinggi sekuler; untuk mengatasinya para mahasiswa diperguruan tinggi Islam cenderung mencarin kompensasi berlebihan dengan cara memamerkan pengetahuan mereka akan, dan keterbukaan mereka terhadap, ide-ide intelektual Barat.

4. Bagi banyak mahasiswa IAIN, Nurcholis Madjid yang menjadi ketum PB HMI 2 periode dan intelektual terkemukan dianggap pahlawan; oleh sebab itu banyak yang mengidolakannya, terlebih setelah Cak Nur bersekolah di University of Chicago, banyak yang terobsesi untuk mengikuti jejaknya.

Pidato tersebut terulang 10 tahun kemudian ditempat yang sama, bahkan lebih diperjelas lagi oleh Cak Nur mengenai ide sekulerisasi yang lebih tegas dan cukup matang.

Kemudian pemerintahan orde baru kala itu dengan inisiasi mentri agama saat itu Mukti Ali hingga berlanjut ke masa Munawar Sjadzali ide-ide liberal ini semakin kental, bahkan orientasi pendidikan bagi mahasiswa juga bukan lagi ke wilayah timur tengah tetapi beralih ke universitas-universitas Barat. Memang ini pula adanya, yang rezim Soeharto inginkan sebab Islam masa orde baru cukup ditekan dan sangat diawasi. Maka pertempuran pemikiran Islam ini sulit juga bila mesti harus ditidak kaitkan dengan perlawanan terhadap ideologi politik.

Tapi saya percaya, semakin kesini seperti misalnya hari ini, para santri yang siap menghadang laju pemikiran liberal juga sudah cukup banyak, namun hanya kurang percaya diri saja dalam menghadapinya. Masih harus menciptakan karya-karya otoritatif serta memperdalam sgala macam keilmuan termasuk yang fardu kifayah. Agar kelak di 2040 siap mengurus negara dengan perwujudan keadilan dan keberadaban, itu artinya pemimpin negara Indonesia adalah seorang ulama ditahun mendatang.

Wallahua’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *