Menyalakan Cahaya Peradaban dari Rumah-rumah Kita

Oleh Yasir Amarulloh
Tegaknya kembali peradaban Islam senantiasa menjadi penantian. Mengapa kita sangat menantikan?. karena sebelum saat ini pernah berjaya berabad-abad lamanya peradaban Islam dengan segala kehebatan. Peradaban yang dimulai dari sebuah negeri yang penduduknya tak berbudi. Lalu dirubah oleh seorang Nabi menjadi negeri dengan manusia-manusia terseleksi. Manusia-manusia itulah yang menjadi pemimpin sebuah peradaban yang gilang gemilang. Peradaban yang memakmurkan, mencerdaskan dan menjadikan bumi dalam kedamaian. Peradaban yang membentang dari arabia sampai nusantara. Peradaban yang sisa kejayaannya bisa dilihat di Cordova dan Andalusia.
Di saat peradaban Islam tegak dan berjaya, buah iman yang kuat tercermin pada akhlak yang mempesona. masyarakat sangat terjaga jiwa dan raga. Tak seorangpun akan sembarang membuat luka apalagi sampai menghilangkan nyawa. Kalau pun sampai membunuh di medan jihad itu dalam rangka mempertahankan agama dan kepentingan yang lebih mulia, bukan karena dendam dan kesumat yang membara di dada. Akhlak mulia menjadi hiasan mempesona, pada setiap orang tua maupun muda, anak-anak atau remaja. Saling hormat, sayang dan cinta mencintai, merasakan bahwa mereka adalah satu jiwa dan raga. Bahkan itu pula yang dilakukan pada yang berbeda agama. Haram tumpah darahnya diganggu kehormatannya dan kehilangan harta benda.
Saat peradaban Islam gilang gemilang ilmu pengetahuan berkembang. Berbagai penemuan menakjubkan dilahirkan. Berbagai cabang ilmu pasti menjadi bahan diskusi yang sampai sekarang menjadi referensi. Buku-buku diperpustakaan tak terhitungkan. Majlis-majlis ilmu disemarakkan, dan akhirnya masyarakat semakin tercerahkan.
Saat peradaban Islam berdaulat, para pemimpin muda hadir sebagai pembela rakyat. tak pernah membiarkan seorangpun masyarakat dibiarkan melarat. Tak pernah ada rakyat yang sakit dan sekarat tanpa mendapatkan penanganan dan obat. Bahkan di pelosok Afrika petugas zakat tak berhasil menyalurkan harta.
Sebuah penantian hanya akan menjadi sia-sia tanpa kita berbuat dan melakukan langkah nyata. Menyalakan cahaya peradaban mulai dari rumah kita adalah langkah paling utama. Jika rumah telah menjadi basis peradaban maka masyarakat dan dunia akan dalam genggaman. Tentu bukan hal yang mudah tetapi butuh perjuangan dan pengorbanan. Dimulai dengan menancapkan misi peradaban dalam pendidikan di rumah kita.
Jika kita berkaca pada Lukmanul Hakim yang mendidik anak-anaknya di rumah, maka setidaknya ada tiga pilar pendidikan di rumah yang harus dilakukan orangtua agar menjadi pondasi peradaban mulia. Ketiga pilar itu adalah Aqidah, Syari’ah dan Akhlaq. Demikian firman Alloh SWT dalam QS Luqman ayat 12-19.
Sebuah peradaban haruslah punya pondasi kokoh berupa keyakinan dasar yang kuat. Maka pernyataan Luqman kepada anak-anaknya agar tidak menyekutukan Alloh SWT, berbuat baik kepada orangtua sebagai manifestasi syukur kepada Alloh SWT serta meyakini sekecil apapun perbuatan akan dilihat dan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya, menjadi keyakinan yang harus ditancapkan kepada setiap penghuni rumah kita agar menjadi pondasi yang kokoh bagi peradaban Islam. Jadilah di setiap rumah kita hanya disebut dan ditinggikan Nama Alloh SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surat cahaya surat An-Nuur ayat 36.
Penegakan aturan Islam dari hal yang pokok yakni menegakan sholat yang terwujud pada amar ma’ruf nahyi munkar menjadi pilar berikutnya. Sholat sebagai tiang agama harus diajarkan, ditegakkan dan diwujudkan dampaknya dalam bentuk memerintahkan kepada ma’ruf serta mencegah fahsya dan munkar. Menyepakati aturan rumah dengan seluruh anggotanya, agar tidak ada yang dzhalim dan didzhalimi dan tercegahnya kejahatan dan kemunkaran masuk ke dalamnya adalah tembok dan tiang rumah yang tangguh.
Menyalakan cahaya keimanan agar setiap penghuni rumah memancarkan akhlaq mulia lewat tingkah laku dan kata-kata adalah pilar berikutnya. Jangan berjalan dengan sombong dan jangan bersuara keras yang dinyatakan Luqman, menunjukkan kerendahan hati dan kesantunan harus diwujudkan pada setiap insan. Hingga kemudian keindahan akhlaq penghuni rumah tercermin dan menjadikan rumah menjadi dambaan siapa saja.
Demikian jika pada setiap rumah ketauhidan kokoh menjadi pondasi, syari’at telah tegak menjadi tiang dan tembok yang kokoh dan akhlaq Islam menghiasi seluruh bagian, peradaban Islam bukan hanya sekedar mimpi tak bertepi, tetapi sebuah kenyataan yang tak terbantahkan. Jika setiap rumah telah menyalakan cahaya maka sinaran peradaban Islam akan memancar memenuhi bumi, menerangi dan memberikan pedoman.Semoga di bulan mulia ini kita bisa menguatkan komitmen kita menyalakan cahaya peradaban dari rumah kita. Wallohu a’lam (YAM)

Ust. Yasir Amarulloh: Penggiat Sekolah Alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *