ITJ Malang Lanjutkan Bedah Buku “Risalah Kaum Muslimin

Malang, 2 September 2017 – Indonesia Tanpa JIL Chapter Malang kembali mengadakan bedah buku “Risalah Kaum Muslimin” karya Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, pertemuan kesepuluh, dan berlokasi di Burgershot, Malang, Sabtu (2/9). Kajian lanjutan ini merupakan bagian dari Kajian Studi Pandangan Alam Islam AhluSunnah Waljamaah (Salam Aja) yang rutin dilakukan dwimingguan.

Dalam kesempatan ini ITJ Malang kembali menghadirkan Ustadz Kholili Hasib M.Ud yang menyampaikan materi tentang falsafah hidup peradaban barat.

Dalam penyampaiannya, Ustadz Kholili
menjelaskan bahwa peradaban barat menjadikan kisah tragedi sebagai falsafah hidupnya.

“Menurut peradaban barat, hidup manusia itu tragis. Manusia adalah tokoh dalam drama kehidupan di dunia. Pahlawannya adalah tokoh-tokoh yang bernasib tragis.
Prinsip tragedi ini disebabkan oleh kekosongan kepercayaan (iman) dan karenanya mereka memandang kehidupan secara dikotomis. Konsep ini berujung pada keresahan jiwa, selalu mencari sesuatu yang tiada akhir, mencari suatu kebenaran tanpa asas kebenaran.”

Hal inilah, lanjut Ustadz Kholili, yang menyebabkan peradaban barat menciptakan konsep kebahagiaan mereka sendiri, yang saat ini disebut paham materialisme. Karena hidup mereka tragis, maka waktu mereke dihabiskan untuk mendapatkan kebahagiaan secara materi sebanyak-banyaknya. Karena mereka tahu , mereka nanti akan mati dibunuh oleh Tuhan.”

Selain itu, Ustadz Kholili juga menyinggung tentang paham humanisme yang menjadi salah satu pilar peradaban barat.
“Humanisme adalah paham yang berpusat pada manusia, menjadikan manusia sebagai pusat kehidupan, pusat kebenaran, dan pusat kebahagiaan.
Humanisme itu sendiri adalah puncak dari paham sekulerisme. Paham ini memanusiakan Tuhan, dan menuhankan manusia.”

Koordinator Chapter ITJ Malang, Muhammad Ibnu Pradhipta menyimpulkan,
“standar kebahagiaan yang datang dari konsep materialisme sifatnya akan selalu berubah-ubah, dan tidak akan tetap dan final.
Jadi mustahil seseorang bisa mencapai kebahagiaan dengan konsep materialisme.
Yang jelas, konsep Liberalisme ,humanisme, materialisme, sekulerisme, meski dari segi bahasa kelihatannya intelektual, tapi pada dasarnya adalah merusak, dan sangat bertentangan dengan Islam. Kita sebagai generasi muda muslim harus sadar dan waspada”.

Ibnu berharap kajian “Salam Aja” bisa jadi sarana belajar generasi muda islam yang ingin mengenali berbahayanya pemikiran liberal.

“Ya harapanya agar generasi muda bisa lebih tau apa itu pemikiran liberal, ya salah satu caranya ya gabung di Indonesia Tanpa JIl”, ucapnya.

Ustadz Kholili Hasib M.Ud

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *