Biarkan Dia Berdakwah, Namanya juga Hijrah

Oleh @randdict

Sebuah fenomena yang biasa terjadi ketika seseorang baru saja hijrah, kemudian dengan penuh gelora api yang seolah tak akan pernah bisa dipadamkan membakari semangatnya untuk berteriak lantang dengan maksud syiar dakwah.

Tanpa menyadari bagaimana kawan-kawan disekitarnya akan memandanginya. Seorang yang baru hijrah tadi tidak peduli dengan hal tersebut. Dia tancapkan terus gasnya sambil berkata tegas seolah kebenaran ini sudah tidak bisa lagi disembunyikan.

Apa itu salah?.. Tidak, sama sekali tidak salah. Lalu apa hal semacam itu terkesan pamer diri?.. Bukan jelas sangat bukan, bahkan yang melakukan penuduhan terhadap dirinya kalau dia pamer merupakan satu tindakan suudzon kepada kawannya. Semesti itu harus didukung, diarahkan ketempat yang tepat atau diberikan ruang bersama untuk berdiskusi saling berbagi ilmu yang telah kita dan dia dapat.

Sahabat Nabi Saw, Umar ibnu Khatab dahulu pun bagai pedang api yang disambar kilat langit. Begitu dirinya baru masuk ke agama Islam. Berteriak lantang di tengah-tengah bangsa Quraisy dengan bangga dan penuh percaya diri. Tanpa memikirkan resiko yang hendak merugikan dirinya.

Sama halnya dengan kawan-kawan kita dilingkungan sekitar. Menikmati masa-masa awal hijrah dengan penuh semangat berdakwah diseputaran sosmed dan dunia nyata. Apresiasikan saja dahulu. Bagi kalian yang mungkin sudah lama mencintai agama dan sudah banyak tahu soal Islam, jangan dulu ambil sikap atau menunjukan hal yang seolah terganggu dengan kawan mu tadi. Jikalau ingin memberitahukan hal yang lebih tepat, rangkul secara perlahan, jangan malah digas atau dikritisi terkait apa yang didakwahkan. Masuknya perlahan jangan sampai bikin drop semangat hijrah. Ajak bergabung agar lebih bijak dakwahnya, tapi tetap Kasih ruang dan support total kepada kawan mu yang lagi hijrah.

Maklum saja, kawan mu itu lantang sampaikan dakwahnya. Ibarat orang, dia adalah seseorang yang baru saja berhasil memasang lampu dirumahnya. Terang, baru tau tata letak ruang dikediamannya, bangga dengan cahaya lampu rumahnya, dan kini bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah. Tinggal dibimbing agar bisa meletakan segala sesuatu pada tempatnya saja, agar terlihat bijak dan adil. Tapi ingat, jangan dulu dimarahi apa lagi dicubit hatinya supaya diam. Sebab kita butuh mereka, yang nantinya akan menjadi bala tentara nya Allah untuk memerangi musuh-musuh Allah.

Lebih dalam soal dakwah, kita ini memiliki jabatan yang tidak bisa ditolak diri, yakni berdakwah. Hassan Al Banna pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin mengatakan, “Nahnu du’at qabla kulli syai” yang menyatakan, “Kita adalah juru dakwah sebelum menjabat profesi yang lainnya”.

Ketika saya mengikuti KMD (Kaderisasi Mujahid Dakwah) jilid 3 bersama Dewan Da’wah. Ditegaskan berkali-kali oleh instrukturnya. Salah satunya ust. Zainal Muttaqin, ketua Dewan Da’wah provinsi Jakarta. Kata beliau, “Dakwah itu peran, bukan profesi”. Artinya siapapun diri kita, polisikah, pelukiskah, karyawan maupun tukang sate sekalipun tujuan kita hidup didunia ini ya meneruskan perjuangan Rasulullah Saw.

“Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS:Yusuf : 108)

Tentunya dengan mempelajari ilmu yang mendalam mengenai Islam. Tapi jangan lupa juga dengan dalil “sampaikanlah, walau satu ayat”. Ini tidak melulu soal kedalam ilmu. Jika yang hanya kita tahu baru cara melafadzkan huruf “Alif” misalnya, tidak apa-apa. Sampaikan saja, jangan malu ada pahalanya tetap, banyak kok yang belum tau soal ketepatan mengucapkan kata “Alif”.

“Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemunkaran, hendaknya dia merubah dengan tangannya, kalau tidak bisa hendaknya merubah dengan lisannya, kalau tidak bisa maka dengan hatinya, dan yang demikian adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Banyak juga teman-teman yang baru hijrah ketika melangsungkan kegiatan dakwahnya. Disandung dengan kalimat-kalimat “jangan mengurusi orang lain, urus saja diri sendiri dulu”. Terkadang datangnya dari musuh, tetapi ada juga yang dari kawan sendiri. Bahkan yang agamanya lebih pandai. Perhatikan baik-baik. Orang-orang yang sering berkata “jangan ngurusin orang lain” sejatinya telah “mengurusi orang yang sedang mengurusi orang lain”.

Bisa dipahami?.. Jika kita tidak sepakat terkait hal “urus mengurus orang”, kita tidak perlu berkomentar banyak pada orang yang sedang berdakwah. Jika kita berkomentar barang sedikit saja. Tandanya kita sudah mulai sepakat, untuk sama-sama mengurusi orang lain. Ingat kita didunia ini hidup diurusi orang lain sejak kita kecil, yakni orang tua tersayang yang sigap menyuapi, menyeboki, mengajari kita berjalan dan belajar tanpa kenal lelah hingga kita sebesar ini. Maka mustahil kita tidak mau mengurusi orang lain kelak besar. Terutama soal kebaikan dalam berdakwah ini.

Secara reflek, jika melihat anak kecil main dipinggir got, terus terlihat ingin jatuh terperosok selokan, apa yang akan kita lakukan?.. Sudah pasti memberi tahu kepada anak tersebut bukan?.. Agar anak kecil tadi tidak tercebur kedalam selokan tersebut. Jika kita tidak memiliki kesadaran tersebut, berarti tandanya hati kita beku, mati dan buta sebab tidak peduli pada nasib orang lain.

Pastikan kisah Nabi Saw yang mengirimi surat kepada Raja Heraklius agar supaya siraja memasuki agama Islam. Ini bukti kalau Nabi Muhammad Saw mengurusi orang lain. Tidak kebayang, jika Nabi hanya berislam sendirian. Mungkin agama yang Rahmatan lil alamin ini tidak akan sebesar saat ini. Menjadi agama terlaris didunia. Subhanallah.

Nah.. Kembali pada pemuda yang baru saja menapaki jalan hijrah. Maklumi saja, biarkan saja dulu dia berdakwah. Dukung terus, jangan dikit-dikit direm, belum-belum dicap riya, diperingati bi’dah ini dan itu. Tunggu saja sampai luapan emosi kemunkaran dirinya yang kemarin berhasil ia keluarkan dengan cara bedakwahnya. Sebab sudah dapat dipastikan itu merupakan fase semangat, dimana sangat wajar ketika seseorang yang baru mendapatkan hidayah dan kemudian berhijrah akan galak dan penuh letupan semangat untuk menyampaikan maksudnya, ya walau terkadang berlebihan. Biarkan saja dulu, datangi ketika semangatnya mulai meredup, rangkul ketika jiwanya mulai futhur/lemah. Sebab kwatir dia kembali pada posisi seperti sebelum ia hijrah.

Sebenarnya kita memang tidak perlu jadi sempurna untuk saling mengingati sesama. Juga tidak perlu menjadi suci untuk kenakan jilbab. Dan tidak perlu menunggu jadi Kyai untuk saling nasehati. Apalagi sampai berharap mumpuni untuk hafal Quran untuk mengajak orang membaca Quran. Jangn sungkanlah karena kewajiban kita cuma menyampaikan. Sekali lagi menyampaikan merupakan kewajibanmu.

Support terus kawan-kawan mu yang baru berhijrah. Jaga bara didalam dadanya agar Istiqomah dan siap berjuang bersama kita dan yang lain dalam barisan muda-mudi akhir zaman dengan legitimasi surat Al-Maidah 54. Mereka tidak akan terus-menerus galak kok, nanti akan tiba saatnya mereka menjadi pribadi yang tertunduk seketika menikmati dan menelusuri lezatnya kedalam ilmu Islam. Dan membuat dirinya bertambah matang dalam berdakwah.

Wallahua’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *