Bekal untuk kami

Bekal Untuk Kami

Oleh Randy Iqbal

Hari itu (6/8/2017) fajar belum bicara, angin subuh pun masih terus menghembus kebagian kaca-kaca aula. Ya,satu ruang aula itu dipadati sejumlah aktivis dakwah “Indonesia Tanpa JIL” dari berbagai chapter/kota. Mereka sedang berembuk merumuskan satu skema canggihuntuk mengembalikan ghirah dakwah yang sempat terpendam. Setelah Qiyamulail dan Subuh berjamaah mereka menunggu-nunggu majelis ilmu yang tidak biasa. Harapan mereka tertuju pada sosok pengisi tausiyah atau pemateri yang dinanti. Siapa sosok tersebut?..

            Waktunya tiba, telepon salah satu kawan saya berdering, kemudian memberikan sign kalau pembicara itu sudah tiba didepan pintu gerbang. Saya yang kebetulan bertugas menjadi kordinator lapangan dan acara langsung bergerak sigap menuju depan pintu aula. Sesuai dengan harapan, sosok yang saya idolai hadir ditengah-tengah para pejuang dakwah, dialah Dr. Adian Husaini salah satu pendiri lembaga INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) sekaligus tokoh intelektual muslim yang sangatlah produktif menulis buku dengan jumlah yang puluhan hingga saat ini.

            Tampil ditengah-tengah pejuang dakwah ITJ, Dr Adian Husaini langsung membuka dengan isu-isu seputar perangpemikiran yang memang menjadi tema yang dikuasainya. Dalam tantangan dakwahini, Dr Adian menekankan bahwa mesti berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Sekalipun kita cukup taat dalam menjalankan ibadah kepada Allah. Syetan tidak tinggal diam, melainkan terus menggoda dengan kelas  atau tingkat keimanan seseorang. Sekalipun dai jangan terlalu yakin selamat dari godaan syetan, kalau tidak terus rendah diri dan mencari ilmu dengan semangat.

            Ada yang menarik ketika Dr. Adian Husaini menyinggung bab Adab, beliau berkata hidup kita ini terus maju kedepan, umur pun terus bertambah maka kita harus juga mampu menempatkan sesuatu pada temapatnya, dalam hal apapun. Bahasan ini biasa disinggung ketika persoalan Adab hendak diterapkan.

            Beliau memang mengatakan tidak terlalu mengikuti perkembangan dakwah yang diusung Indonesia Tanpa JIL (ITJ) ini, namun beliau menegaskan terkait dukungannya terhadap ITJ. Kenapa? Karena ini merupakan kegiatan dalam menegakan amar maruf nahi munkar. tetapi perludipastikan keseimbangan jiwa para punggawa pengemban dakwah harus juga stabil. Selain semangat dalam memburu ilmu, para aktivis juga disarankan unutk memantapkan dalam melakukan dzikir, sebab dzikir ialah penenang hati. Dr Adian menyinggung artis Tora Sudiro yang sedang tersandung kasus pengonsumsian obat penenang. Ini bukti kalau menjadi artis atau banyak uang tidak juga menjajikan ketenangan jiwa. Tidak berhenti disini, beliau juga mengambil contoh vokalis band Linkin Park Chester Benington yang meninggal karena bunuh diri. Maka sekali lagi, berdzikir kepada Allah adalah kunci ketenangan jiwa.

            Karena aspek terpenting manusia adalah jiwanya bukan badannya. Maka gizi jiwa hanya dapat diperoleh dari ibadah total mendekatkan diri kepada Allah. Mulai masuk persoalan Liberalisme, beliau mengatakan ada beberapa tingkatan dalam Liberalisme. Ada yang taraf produsen, seperti misalnya institusi dan lembaga pendidikan. Adapun JIL(Jaringan Islam Liberal) itu disebut sebagai level asongan atau eceran tetapi sama-sama bahayanya. Sebab mereka menyebarkan virus penyakit aqidah yakni, Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme.

            ITJ sudah hampir 5 tahun berdiri, harapan Dr Adian kepada ITJ yaitu menaikan taraf atau tingkatan dakwah. Agar lebih mengurusi liberalisme yang lebih berat lagi. Dengan kata lain mulai melebarkan sayap dakwah demi membendung arus sepilis yang mengancam setiap jiwa- jiwa muslim tidak hanya menjadikan JIL sebagai target serangan. Banyak orang-orang cerdas tapi kurang beradab.  Yang model begini, sangat mudah diracuni Islam Liberal. Orang yang tidak beradabtidak boleh diberi ilmu atau bahkan jangan belajar dahulu, sebab bisa menjadi orang jahat yang berilmu.

            Ada lagi pesan yang tidak kalah menarik, ITJ diminta untuk mulai menyirikan kekhasannya dalam berdakwah. Masing-masing aktivis dalam berbagai chapternya wajib untuk membuat karya sesuai bidangnya. Agar dapat diakui dalam otoritas kelimuan, kemudian dapatsiap tampil kedepan untuk berhadapan dengan lawan secara terhormat lagi intelektual.  Jauhi pola mengedepankan emosi dalam berdakwah, misalkan emosi yang dapat merusak ketenangan dalam dakwah. Banyak-banyaklah mengapresiasi kebaikan orang lain bahkan termasuk pada kawan maupun lawan kita sendiri. Jika kita tidak sepakat dengan presiden misalnya, tetapi ada pekerjaaan presiden yang baik. Maka wajib bagi kita untuk mengapresiasi atau mendukung. Tetapi sebaliknya jika  pemimpin dzalim jelas tugas kita bersama pula untuk mengingatkan tentunya tetap dengan cara-cara yang terpelajar.

            Kalau perlu melakukan kunjungan kepada tokoh-tokoh yang bersebrangan untuk mengetahui bagaimana isi kepala mereka, kedalam ilmu mereka, rujukan mereka dalam ideologi, asal mula mereka atau titi pangkal menjadi pelawan Islam dan sebagainya. Tentunya ini kiat untuk mengenal musuh lebih dalam, ‘know your enemy’.

            Pribadi jiwa yang memilih untuk berdakwah, kebanyakan adalah orang-orang yang berjuang untuk pintar. Boleh saja bila hendak memilih untuk tidak terlalu pintar, lalu yang perlu dilakukan cukuplah beribadah dan berbuat baik saja, ini sudah bisa selamat kelak diakhirat. Tapi ada tantangan khusus bagi orang-orang yang memilih untuk pintar, yakni membuat karya agar menjadi amal pemberat pula di akhirat.

            Dilanjut soal ide-ide cemerlang dalam mengembangkan kegiatan dakwah, kita harus sanggup merumuskan strategidengan matang dan jenius. Katakanlah soal ide, ide-ide kecil harus segera dimulai hingga nanti sampai terbentuk ide besar yang bisa di implementasikan. Menengok kisah pengusung ide Zionisme, Theodore Herzl yang telah memiliki ide tentang Zionis tersebut sejak 50 tahun sebelum negara Israel berdiri. Agaknya ITJ harus mulai bergerak secara teroganisir dan serius. Memiliki proyeksi 20 tahun kedepan misalnya, ini sudah langkah yang cukup baik dalam gerak dakwah beramar maruf nahi munkar. dengan ini kita jadi mampu mengukur sampai mana keberhasilan dakwah ITJ beserta kekukarangannya.

            Mengenai pasang surut para anggota, Dr Adian Husaini meminta untuk jangan terlalu dihiraukan. Tidak perlu banyak-banyak dalam merekrut tim pengurus sebab dapat memecahkan konsentrasi. Biar sedikit yang terpenting berkontribusi begitu imbuhnya.  Sebab pemenang didunia adalah kelompok yang kecil. Mulailah mencetak generasi penerus yang adil dan beradab. Mengutip pernyataan Pak Muhammad Natsir untuk ‘memegang posisi guru’ khususnya guru PKN dan sejarah yang konsen dalam membahas Pancasila dan agama.

            Mari sama-sama mendukung harapan para cendikiawan muslim negeri ini, bahwa 2040 pemimpin Negara haruslah pewaris Nabi dan pewaris nabi adalah ulama. Untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan beradab. Selain itu kita pun harus selalu membuka pintu hati kehijrahan bagi orang-orang yang mungkin sebelumnya berhaluan liberal dan kemudian taubat memilih Islamsebagai jalan hidupnya kembali. Sambil mengingat kisah, KH. Agus Salim yangpada awalnya merupakan tokoh intel Belanda yang ditugaskan untuk memata-matai Sarekat Islam namun kemudian malah berbalik bergabung dengan sarekat Islam, dan ikut merumuskan sila-sila Pancasila Republik Indonesia berdasarkan KeTuhanan (Tauhid).

            Kurang lebih ini yang disampaikan Dr. Adian Husaini dalam agenda Silatnas Indonesia Tanpa JIL yang bertemakan‘Begin Again’ di Villa Dolken puncak Bogor. Semoga menjadi generator pembangkit semangat tenaga, hati dan jiwa dalam berdakwah secara konsisten nan sabar. Mari berdoa bersama memohonkan diri kepada Allah agar diberi keistiqomahan dan wafat dalam keadaan Islam, Amin. Salam hangat ‘Indonesia Tanpa JIL’.(RnD)

Wallahua’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *