PROKLAMASI TANPA ULAMA DAN SANTRI TIDAK AKAN TERJADI

Oleh : Prof. Ahmad Mansur Suryanegara

PROKLAMASI TANPA ULAMA DAN SANTRI TIDAK AKAN TERJADI, TIDAK ADA YANG BERANI MENGAWAL PROKLAMATOR BUNG KARNO dan BUNG HATTA.

SEKUTU melumatkan Hirosyima dan Nagasaki ( 6 dan 9 Agustus 1945 ). Kerajaan Shinto Jepang menyerah kepada Sekutu ( 14 Agustus 1945 ). Balatentara Jepang, berbalik memusuhi rakyat Indonesia. Semula Balatentara Dai Nippon menamakan dirinya sebagai FURUI SHINSEKI – SAUDARA TUA bangsa Indonesia. Dan PM Koiso berjanji pada 7 September 1943, akan memberikan Kemerdekaan Indonesia Merdeka berdasarkan Islam. Tetapi dampak penyerahan Axis Pact, dan Kerajaan Shinto Jepang Tenno Heika kepada Sekutu, Balatentara Jepang di Indonesia berbalik memusuhi bangsa Indonesia. Dan kerjasama dengan Sekutu menjaga Indonesia untuk diserahkan kepada Sekutu atau Keradjaan Protestan Belanda sebagai penjajah.

Di bawah kondisi yang demikian ini BUNG KARNO dan BUNG HATTA kebingungan. PKI yang menginduk ke Rusia sebagai Sekutu, menculik BUNG KARNO dan BUNG HATTA ( 15 Agustus 1945 ).

Jauh sebelumnya peristiwa ini terjadi, BUNG KARNO sudah mengadakan kontak dengan KH HASYIM ASYARI Pesantren Tebuireng Jombang. Di sini dikuatkan pendiriannya dan BUNG KARNO diyakinkan akan diangkat jadi Presiden. Dari KH Abdul MU’THI dari Perserikatan Moehammadijah ketepatan waktunya 9 Ramadhan 1364, Jumat Legi, 17 Agustus 1945. Dari KH BASYARI atau menurut Gus Dur disebutnya KH MUSA ( Keturunan Soeltan Hadiwidjaja Kesoeltanan Padjang ), mendapat dukungan spirirual sejak lama bersama. Bahkan di Pesantren Cikeruh Sukanagara Cianjur Selatan dititipkan Sang Saka Nerah Putih sejak 1939. BUNG KARNO ke KH BASJARI dikenalkan oleh Kandjeng Dalem BUPATI Bandung. RAA WIRANATAKOESOEMAH.

BERKAT RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA, PROKLAMASI benar terjadi dapat dilasanakan pada 9 RAMADHON 1364, Jumat Legi, 17 Agustus 1945, jam 10 pagi.

Kelanjutannya, kelompok Sosialis melancarkan Kudeta Tak Berdarah ( 16 Okt 1945 ). Kabinet Presidentil digantikan dengan Kabinet Parlementer dipimpin oleh Perdana Menteri SOETAN SJAHRIR. Dan dalam menyelesaikan Sengketa RI dengan Kerajaan Protestan Belanda memilih cara Diplomasi Perundingan. Walau Tentara Sekutu sudah mendarat di Surabaya, Semarang dan Jakarta.

Para ULAMA tidak membenarkan dengan Diplomasi. Di bawah pimpinan SJEIKHOE RAIS AKBAR KH HASJIM ASJ ‘ARI menyampaikan RESOLUSI DJIHAD ( 22 Okt 1945 ) kepada PM Soetan SJAHRIR. Dilaksanakan dengan cara membentuk Barisan Sabilillah untuk Ulama. Dan untuk Santri membentuk Lasjkar Hizboellah sebagai Barisan Istimewa BKR ( TNI ). Pecahlah penyerangan Ulama dan Santri ke Markas Sekutu Inggris. Danpaknya Brigjen Malabey mati (31 Okt 1945 ). Resulusi Djihad ini semakin mendapat dukungan dari Partai Politik Islam MASJUMI.

Situasi perang sangat mencengkap tanpa ada kepastian Perang Kemerdekaan (1945 -1950 ) kapan berakhirnya. Sangat menakutkan menghadapi Tentara Sekutu bawa senjata pemusnah bom atom.

Siapa yang berani dan bisa membangkitkan Semangat Djihad. Sejarah mencatat beberapa ULAMA :
KH SUBHI dengan BAMBU RUNCING dari Parakan Wonosobo, para Menteri dan Pemuda bangkit siap Perang Jihad Fi Sabilillah.
Didukung oleh KH ABDOELLAH ABBAS dari Pesabtren Buntet Cirebon.KH NOER ALI Bekasi. KH MUSLIH ABDOERRAHMAN Mranggen. KH MANDOER. KH IDRIS Wonosobo. KH DALHAR, KH CIBADUYUT Bandung.

Tentara Sekoetoe yang menang perang dalam Perang Dunia II, gagal menghadapi Serangan ULAMA dan SANTRI di Surabaya (10 Nov 1945). Bojongkokosan Sukabumi ( 9 Des 1945), Salatiga Ambarawa Jateng ( 15 Des 1945 ). Saat itu BKR atau TNI secara institusi tidak terlibat dalam Perang Jihad. Karena PM SOETAN SJAHRIR tetap menyiapkan Diplomasi. Tidak membenarkan BKR atau TNI secara institusi ikut berperang. Tetapi para Pemuda mantan Tentara Peta membaur bersama ULAMA Barisan Sabilillah dan SANTRI Lasjkar Hizboellah terjun dalam Kancah Pera g Djihad.

Mati dalam bertempur diyakini MATI SYAHID. Lebih mulia daripada hidup tapi dijajah. ULAMA lah yang membangkitkan JIWA BERANI TEMPUR BELA PROKLAMASI 9 Ramadhan 1364, Jumat Legi, 17 Agustus 1945.

Sumber : Prof. Ahmad Mansur Suryanegara

KH IDRIS Wonosobo
KH SUBHI Parakan Wonosobo
KH MUSLIH ABDURRAHMAN Mranggen Demak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *