Mencari Kemerdekaan Sejati

MENCARI KEMERDEKAAN SEJATI

Semua telah sepakat, bahkan tak perlu sidang Isbat bahwa 17 Agustus setiap tahunnya adalah hari kemerdekaan yang harus kita ingat. Maka setiap datang hari ini upacara dilaksanakan, bendera dikibarkan dan perayaan digemborkan. Tapi setiap hari ini pula selalu muncul tanya, apakah kita sudah merdeka, sebagai sebuah bangsa maupun sebagai warga negara.

Maka mari kita fahami merdeka bukan hanya sekedar kata yang diteriakkan dalam pawai dan upacara. Tapi sebuah keadaan yang menggambarkan bebasnya sebuah bangsa dari segala jenis penjajahan. Maka memahami merdeka harus pula memahami lawannya yaitu penjajahan. Karena sejauh mana kita memahami arti terjajah sejauh itu pula kita bisa memahami makna merdeka seutuhnya.

Jika mengacu pada Kamus besar bahasa Indonesia Penjajahan adalah upaya melakukan proses menjajah, sedangkan menjajah sendiri adalah menguasai dan memerintah suatu bangsa/ negara. Maka jika berdasarkan definisi ini saja, kemerdekaan bisa dimaknai sebagai lepasnya bangsa Indonesia dari penguasaan dan pemerintahan bangsa lain. Pertanyaannya sudahkah hal tersebut terjadi seutuhmya, bahwa kita sebagai sebuah bangsa sudah tidak lagi dikuasai dan diperintah oleh bangsa lain?. Maka mari kita telisik dari berbagai segi kehidupan bangsa ini. Dari sisi Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Pendidikan.

Pada Aspek Ideologi, sudahkah kita merdeka, ketika pancasila sebagai kesepakatan bangsa dan ummat Islam paling besar andilnya justru sedang diarahkan menjauhi Islam. Saat ini sedang muncul sebuah upaya untuk memaksakan pemaknaan ideologi pancasila menjadi hanya terminologi penguasa semata. Maka Aku Indonesia dan Aku Pancasila menjadi jargon yang lebih tercium berbau sekularisme. Karena kemudian yang terjadi korbannya adalah Ummat Islam yang memperjuangkan tata kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh pemilik negri dan bumi sesungguhnya. Ketika orang yang ingin mewacanakan pengelolaan kehidupan harus sesuai dengan perintah Alloh Sang Maha Kuasa kemudian diartikan sebagai anti Pancasila, apakah kita sudah merdeka. Padahal sesungguhnya yang terancam adalah ideologi sekularisme yang dikembangkan Barat.

Demikan halnya dalam politik, bagaimana kita saksikan tangan-tangan kotor para Taipan mencoba mengarahkan kekuasaan kepada apa yang mereka inginkan. Sudah tak dapat dipungkiri banyak para politikus benar-benar menjadi pion-pion yang dimainkan. Mereka mendekati dan menghimpun suara rakyat untuk selanjutnya berkuasa tanpa lagi mempedulikan kepentingan dan kesejahteraanya.

Setali tiga uang dalam bidang ekonomi, bahkan mungkin ini yang paling nampak sehari-hari. Bagaimana petani kesejahteraanya dikebiri, para nelayan tak mendapatkan kepastian, para pedagang kecil harus terus lari tunggang langgang. Bagaimana kita saksikan produk dalam negeri hasil para petani tak lagi dihargai. Impor lebih dipilih dari pada memberdayakan pertanian. Maka kita saksikan negeri yang subur makmur dan loh jinawi, negeri yang kayu dan batu pun bisa jadi tanaman kemudian mengalami kesulitan pangan. Maka apakah kita sudah merdeka ketika kuasa atas 80% sumberdaya hanya dikuasai kurang dari 20% penduduk dan sebaliknya 20% sumberdaya diperbutkan oleh 80% warga.

Demikian pula pada pendidikan dan sosial budaya. Bagaimana kita tidak lagi menghargai apa yang kita memiliki dan mengarahkan kiblat pendidikan dan sosial budaya kepada bangsa-bangsa yang dianggap telah maju padahal semu. Maka lihatlah kebanggaan para pemuda dan juga orangtua kepada apa saja yang datang dari sana, dari negeri para penjajah. Lalu bisakah kita berkata telah merdeka.

Oleh karenanya, kemerdekaan sejati itulah yang harus dicari. Harus bisa mewujud dan terrealisasi. Keadaaan di mana kita mampu merdeka menjadi manusia. Merdeka menjalankan Hak Asasi yang inheren dalam diri kita. Maka mencari kemrdekaan sejati harus dimuali dengan memastikan apa yang menjadi Hak Asasi bagi manusia, hak yang Alloh berikan kepada setiap manusia yang harus terwujud dalam kehidupannya.

Untuk tahu apa yang menjadi hak asasi manusia yang diberikan kepada kita semua tanpa kecuali , kepada petunjuk Sang Pemberi mari kita kembali.

Alloh Firmankan dalam QS: 30:30
30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[1168],
[1168]. Fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan

Maka yang asasi dari manusia ia membawa fitrah berupa kecenderungan beragama Tauhid menjalankan Diinul Qoyyim, Diinul Islam. Oleh karenanya penjajahan adalah segala upaya menjauhkan manusia dari fitrahnya ini. Maka segala macam bentuk penjajahan pasti akan menjauhkan manusia dari hanya mengesakan Alloh dalam segala eksistensinya. Penjajahan adalah upaya upaya mengkerdilkan eksistensi Alloh dalam kehidupan. Ketika Alloh tidak lagi menjadi sumber dan tujuan peribadahan, maka lahirlah ketidakmerdekaan ideologi. Ketika Eksistensi Alloh sebagai sumber dan pendistribusi rizki dikerdiilkan maka lahirlah penjajahan ekeonomi. Ketika Alloh sebagai penguasa langit dan bumi hanya sebagai wacana maka terjadilah penjajahan plotik, sosial dan budaya.

Kemerdekaan sejati hanya bisa dicapai dengan menjadikan Tauhid sebagai world view, menjadikan Islam sebagai pijakan kehidupan, menjadikan qur’an dan sunnah sebagi rujukan dan hanya menjadikan Alloh sebagai sumber dan tujuan pengabdian. Lalu diwujudkan dalam melawan segala jenis penjajahan , segala jenis upaya syaithan dalam wujud jin dan manusia yang berupaya menyimpangkan kita dari fithrah kemanusiaan.

Keadaan di mana Dinul Qoyyim, Diin Tauhid, Diinul Islam tidak tegak disebut kondisi fitnah, maka demi menghilangkan fitnah, berperang sekalipun menjadi wajib hukumnya. Demi mencapai kemerdekaan sejati adakalanya mengorbankan jiwa dan harta menjadi sesuatu pilihan tak terelakkan.

Alloh SWT berfirman dalam QS: 2:193
Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim

Jika berkaca pada sejarah, mengapa para santri dan ulama menjadi yang terdepan melawan penajajah, karena mereka yang paling menyadari bahwa kehadiran Kolonialisme dan Imprealisme telah memaksa mereka keluar dari Fithrah kemanusiaan. Telah menjadi fitnah bagi kehidupan mereka. Oleh karenanya melawannya menjadi Jihad fii Sabilillah karena merupakan upaya mempertahankan Hak Asasi yang ada dalam diri, sekaligus mempertahankan menjadi manusia yang mengabdi kepada satu-satunya yang berhak diabdi, bukan pada manusia atau bangsa-bangsa Eropa. Gaung Takbir menjadi api semangat yang mendorong merdeka, sehingga jika saat ini Takbir dan kalimat Tauhid sulit digaungkan, maka mencari Kemerdekaan sejati adalah usaha keras tanpa henti. Wallohu A’lam (YAM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *